Langsung ke konten utama

MY STORY ON WATTPAD : SWEET TEEN

hei hei readers.. Jumpe lagi !!
kali ini saya akan memposting sebuah cerita yang alhamdulillah saya buat sendiri, walaupun masih 1 bagian, tapi setidaknya karya otak saya. Bukan copas or plagiat *sorry.
Cerita ini telah saya post di akun wattpad saya DewiAndr7 . Untuk mengetahui update an terbarunya silahkan tambah ke perpustakaan anda. And dont forget to follow, vote and voment my story. The last, i will share the first chapter in here. Cekidot.




SWEET TEEN
genre: Teenager, school-life.

Angin pagi berhembus. Melambaikan daun-daun dipinggir sana. Mencoba mengajak menari pada setiap murid-murid yang berlalu-lalang. Tapi sejuk nya pagi itu tidak membuat wajah kaku itu berubah menjadi lunak.
Alfin.
Anak laki-laki yang masih remaja itu tetap menunjukkan wajah kakunya, meski tak luput sapa dari beberapa murid perempuan yang mengagumi sosok tampan nya.
"Kyaa.... Makin ganteng deh Kak Alfin !!"
"Jalannya cool banget !!"
"wihh.. Pagi-pagi udah ketemu pangeran ganteng aja.."
"Hai.. Kak Alfin.."
Alfin terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan-teriakan tersebut. Bukan nya dia sombong. Tapi dia terlalu bosan dan malas meladeni perempuan macam mereka. Meskipun begitu, para perempuan itu tidak pernah kapok untuk mengulanginya setiap pagi, setiap hari.
Sampai dikelas, dia langsung duduk di deretan bangku paling depan. Baru beberapa orang datang. Kemudian membaca buku geografi untuk jam pertama nanti.
"Yah, sayang banget kemaren gue gak nonton. Gue kemaren ketiduran.."
Dari arah pintu terlihat dua orang gadis sedang berbincang-bincang. Alfin melirik cukup lama.
"Lo tenang aja. Kan di youtube ada, Feni." Ucap salah satu pada gadis yang dipanggil Feni.
"O i yaa.. Gue lupa ! Yey gue bisa nonton chanyeol !" Teriak Feni heboh setelah menepuk pelan jidatnya.
"Nanti kan malem minggu tuh, lo nginep tempat gue ya? Temenin gue nonton.. Please.." Mohon nya
"emm gimana ya, gue sih mau mau aja. Gue ijin dulu deh sama Nyokap.."
"Okedeh.. Thanks Ditha.." Kata Feni, memeluk temannya sekilas.
"Gue ke kelas dulu ya, Fen. Bye."
"Bye, Dith." Balasnya. Kemudian Ditha berlalu.
Kemudian Feni berjalan ke arah bangku nya.
Merasa di perhatikan, Feni menoleh ke arah tatapan itu.
Meskipun tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu, Alfin tidak mengalihkan tatapan nya.
Feni mengangkat alis kiri nya seolah bertanya 'kenapa?'
Melihat itu Alfin mengalihkan tatapan ke buku yang ia pengang.
Dasar aneh. Batin Feni.
Feni pun membiarkan hal itu, sampai bel pun berbunyi tanda masuk. Melupakan hal tadi seolah tak terjadi.
***
Seperti biasanya, Feni dan Ditha, sahabat dari balita itu, menghabiskan 15 menit sisa jam istirahat nya, berdua ria dipinggir lapangan basket. Menikmati pemandangan yang membuat mata mereka terpesona berkali-kali.
"Dio ganteng banget.. Gue beruntung bisa sekolah disini." Ucap Ditha yang terpesona
"Iya, gue juga. Secara sekolah kita itu hampir semuanya cogan,anak hits, kaya, pinter juga. Gue bangga banget bisa disin-Aww!" Ucapnya terpotong karena sebuah bola nyasar di kepala nya saat dia menoleh ke Ditha.
"Duh, sial siapa ni yang ngelempar gue?!!" Teriaknya.
"Eh, sorry, gue gak sengaja, sorry banget ya.." Ucap sesorang.
"Kak Reza?" Cicitnya. Dia salah tingkah saat tau di depan nya ternyata Reza, cowok yang dia taksir.
"Iyaaa, kok lo kaget gitu? Kepala lo..?" Reza mengulurkan tangannya, mencoba memeriksa apa ada yang salah.
Deg.
Jantung Feni berdebar-debar saat tangan itu mengusap lembut kepalanya. Sedang Ditha yang disamping nya melongo.
"A-a-aku g-gak pa kok.. " Feni menggigit bibir nya karena terlalu gugup bercampur senang.
"Beneran? Atau mau gue anter ke Uks, mungkin?" Tanya Reza setelah menurunkan tangan nya.
"Gak perlu kok kak, gak perlu. It's okay.." Jawab Feni.
'Aslinya pengen banget' batinnya.
"Oh, oke kalo gitu, sekali lagi sorry ya.." Ucap Reza sembari mengambil bola di bawah kaki Feni.
Sedangkan Feni hanya tersenyum menanggapi, menutupi rasa senang nya, kan malu kalo ketahuan.
Dia terus memandangi punggung Reza yang menjauh.
"Woyyyy, Feniiii, lo denger gue gak sih.. Eh coeg !" Umpat Ditha yang tak ditanggapi oleh Feni.
"Apa sih Dith, ganggu gue aja." Balas Feni.
"Iya deh iya, yang baru dielus-elus kepala nya macem anjing!" Ucap Ditha yang kemudian kabur meninggalkan Feni.
"kampret lo!!" Teriak Feni.
***
Sepulang sekolah, Alfin tak langsung pulang. Tapi dia akan ke perpustakan. Biasanya dia akan pulang satu sampai dua jam kemudian.
Suasana sekolah sudah sepi. Jam ditangannya menunjukkan pukul 16.50. Dia berjalan melewati loker-loker kelas 11.
Alfin meletakkan mawar yang ia pegang dari tadi di selipan loker nomor '15'.
Kemudian melanjutkan perjalanan pulang yang tertunda.
***
"Assalamualaikum.."
Tak lama pintu rumah itu terbuka memunculkan seorang ibu-ibu berjilbab.
"Walaikum salam. Eh, Nak Reza.. Nyari Alfin?"
"Iya tante. Alfin ada?" Tanya Reza kepada Tante Ema, Ibu Alfin.
"Ada. Ke atas aja. Dia ada dikamar."
"Oke makasih tante.. Ini ada kue dari mama buat tante."
"Wah, kok repot-repot. Mama mu yang bikin? Hmm, harum.." Puji Tante Ema
"Iya tante, gak ngerepotin kok. Saya naik dulu tante."
"Bilangin makasih buat Mama kamu ya, Za.."
"Iya." Kemudian Reza berjalan menaiki tangga menuju ke Kamar Alfin.
"Pin... Alpin?" Dia pun masuk.
"Lo lagi ngapain?" Tanya begitu masuk dan melihat Alfin.
"Seperti biasanya." Jawab Alfi sekenanya.
Reza berjalan ke tempat Alfin di meja belajar. Alfin sedang berkutat dengan gambarnya.
Mereka terdiam cukup lama. Sampai pertanyaan memecahkan keheningan itu.
"Lo pernah jatuh cinta?" Pertanyaan itu membuat kepala Alfin menoleh.
"Maksud lo? Jangan bilang lo jatuh cinta sama gue?" Alfin menatap horor pada Reza lalu menggeser duduk nya menjauh.
Reza yang melihat itu terbahak-bahak.
"Hahahaha... Gila aja gue naksir lo, gue masih normal, bro. Gue masih suka cewek.." Jawabnya lalu tertawa lagi.
"Trus maksud lo apa tadi nanya kayak gitu? Ew."
"I'm falling in love. And surely, a girl."
Alfin menghembuskan nafas lega mendengarkan itu, kemudian bertanya.
"Siapa cewek itu?"
"Lo pasti kenal. Dia temen sekelas lo kok." Reza bangkit dari duduk nya, berjalan kearah jendela kamar itu yang terbuka.
Pandangan Alfin terus mengikuti Reza berjalan.
"Namanya..." Reza menoleh ke arah Alfin.
"...Feni."
Deg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi | Monokrom

Title : Monokrom Writer : Dewi Andriani Aku bingung Bagaimana aku harus melukiskan ini Bagaimana aku harus melukiskan tentang mu Karena aku masih tak tau Dimana aku harus meletakkan dirimu Yang jelas Engkau selalu ada dan akan terus ada dalam tiap-tiap lembar monokram kenangan Kenangan akan gaya mu Kenangan akan tutur mu dan kenangan akan fikir mu Aku bingung Bagaimana aku harus melukiskan ini Bagaimana aku harus melukiskan tentang mu Karena aku masih tak tau Dimana aku harus meletakkan dirimu Yang jelas Engkau adalah alasan untuk pena ini merangkai tiap kata demi kata malam ini rangkaian kata yang ter-toreh-kan sebuah pesan rahasia yang membangkitkan oksitosin dalam diri seseorang Tapi menyebabkan liquid-liquid bening jatuh karena terbengkalai